Warga asli Papua maupun asal jawa berbaur di halaman Balai Pertemuan Kelurahan Koya Barat |
JAYAPURA - Namanya Kelurahan Koya Barat, lokasinya di Distrik Muara Tami, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Jayapura, Papua.
Begitu masuk Kelurahan ini, percakapan yang acapkali terdengar bukan
bahasa lokal setempat, tapi bahasa Jawa. Warga berbelanja dan menawar
harga sayur mayur berbahasa Jawa. Anak-anak kecil berjalan kaki menuju sekolah bersama teman-teman sebayanya juga ngobrol dan bercanda pakai bahasa Jawa.
Di seberang kantor Kelurahan Koya Barat malah ada warung soto Lamongan. "Saya orang Papua asli, tapi nggak bisa bahasa Papua. Bisanya bahasa Jawa. Soalnya suami orang Jawa," kata Sopia Ayomi (40), kepada Tribunnews.com.Sopia dari kecil sampai berumahtangga tinggal di kawasan Koya Barat
yang mayoritas pendatang dari Jawa. Ia bersuami transmigran asal
Purwokerto, Jawa Tengah.
"Sak bendino ngomonge karo bojoku boso Jowo, yo isone boso Jowo (tiap
hari ngobrolnya bahasa Jawa dengan suami, ya bisanya Bahasa Jawa),"
kata Sopia.
Sopia tak sendiri. Martina Haay, wanita Papua asli, juga menikah dengan pria asal Trenggalek, Jawa Timur. Dari pernikahan itu ia dikaruniai tiga orang anak.
Sementara Sunarsih (35), transmigran asal Ponorogo, Jawa Timur, juga tak bisa berbahasa lokal Papua meski sudah tinggal bertahun-tahun di Koya Barat.
"Susah belajar bahasa Papua. Lain suku saja sudah beda bahasanya," kata Sunarsih.
Meski terjadi pembauran antara Jawa dan penduduk asli Papua,
tidak tampak ada kesenjangan. Justru sebaliknya mereka amat kompak,
termasuk dalam menghadapi risiko bencana khususnya ancaman banjir.
Puluhan warga setempat bergabung dengan LSM Oxfam membentuk Tim Siaga
Bencana Kelurahan (TSBK). Mereka mendapat pelatihan mengevakuasi korban
yang terjebak banjir, menolong korban reruntuhan, membangun tenda
darurat, menyiapkan logistik secara cepat.
"Kami memang digembleng oleh Oxfam untuk selalu siaga bencana. Meminimalkan risikonya, " kata Lurah Koya Barat, Reuter Sabarofek.
Beberapa kali dilanda banjir besar membuat desa ini siaga bencana. Terakhir terjadi pada 2011 silam.
"Satu RW tenggelam," kisah Surono, Ketua TSBK Koya Barat.
Koya Barat berisiko dilanda banjir karena posisinya di dataran rendah dan dikelilingi perbukitan dan sungai-sungai. "Kami sering dapat kiriman air dari wilayah sekitar yang lebih tinggi," tutur Reuter, Lurah Koya Barat yang berdarah blasteran Papua dan Sulawesi Tenggara itu. Jebolnya tanggul pada Desember 2012 dan awal 2013 lalu membuat Kelurahan ini waspada.
"Jadi begitu ada bencana, Kelurahan ini sudah punya tim-tim tanggap
darurat yang bergerak cepat mengevakuasi korban," kata Martin, seorang
kader TSBK.
Bencana membuat warga Kelurahan ini justru makin tangguh!
Sumber : Tribunnews.com, Agung Budi Santoso
No comments:
Post a Comment